Budidaya Ubi Cilembu Bersama Masyarakat di Tanah ITB Haurgombong, Desa Cilembu.

Jatinangor.itb.ac.id – (Jumat, 14/10/2016)

Lahan ITB di Haurgombong Desa Cilembu

Institut Teknologi Bandung Kampus Jatinangor berdiri diatas lahan seluas 45 hektar dengan hampir 75 persen merupakan lahan terbuka hijau. Sejak didirikannya Program Studi Rekayasa Hayati dan Rekayasa Pertanian, ITB Kampus Jatinangor mempersiapkan sejumlah lahan pertanian dan perkebunan di beberapa lokasi yang dikelola oleh ITB untuk kepentingan akademik dan penelitian mahasiswa di Kampus ITB Jatinangor.

Haurgombong, Desa Cilembu, merupakan salah satu lahan perkebunan yang dikelola oleh ITB Kampus Jatinangor. Lahan ini  terletak sekitar 10 Km di sebelah timur Kampus ITB Jatinangor dan dirancang sebagai lahan tanam untuk area penelitian mahasiswa dan dosen di Institut Teknologi Bandung.

Persiapan Tanam

Pertengahan bulan Maret 2016, sekitar 1400 meter persegi lahan dari 20 hektar lahan Haurgombong ditanami bibit umbi jenis runcing. Saat itu sebanyak 40 kilogram batang umbi runcing berumur dua bulan dipersiapkan sebagai bibit yang kemudian dipotong sekitar 15 – 25 cm.

Sebelum ditanam, lahan diolah terlebih dahulu dengan menambahkan pupuk kompos atau pupuk kandang dan kemudian dibentuk gundukan memanjang. Gundukan atau guludan dibuat setinggi 30 – 40 cm dengan lebar 60 – 100 cm dan jarak antar guludan sekitar 40 -60 cm. Panjang guludan mengikuti bentuk lahan. Selain memberikan pupuk kandang, diberikan pula obat anti hama furadan. Furadan adalah insektisida yang secara sistemik dapat masuk kedalam jaringan tanaman melalui proses penyerapan air oleh akar sehingga serangga tersebut dapat mengkonsumsi bagian-bagian dalam dari tanaman.

Penanaman Umbi Jenis Runcing

Umbi runcing ditanam dengan cara membenamkan batang umbi ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar 10 cm dari permukaan tanah. Dalam satu gundukan atau guludan sebaiknya terdapat dua baris tanaman. Jarak antar tanaman dalam satu baris berkisar 30 cm.  Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari setelah batang ditanam. Penyiraman bisa dihentikan setelah tanaman terlihat tumbuh yang ditandai dengan keluarnya daun baru.

Pemeliharaan Hingga Panen

Tanaman umbi adalah tanaman yang tahan terhadap bahaya kekeringan. Intensitas hujan dua minggu sekali sudah cukup untuk memberikan asupan air, sehingga relatif tidak memerlukan penyiraman secara terus menerus. Setelah minggu ke-2 dan ke-3 penanaman, selanjutnya adalah pemeriksaan tanaman. Apabila terdapat tanaman yang gagal tumbuh, harus segera di ganti dengan tanaman baru. Guludan yang sudah mulai turun ketinggiannya akibat tergerus air hujan atau sebab lainnya, harus diperbaiki agar ketinggian nya seperti semula.

Umbi runcing bisa dipanen pada umur 4 – 6 bulan setelah tanam. ITB Kampus Jatinangor mulai panen umbi runcing di lahan Haurgombong pada akhir bulan September. Dengan luas lahan 1400 meter persegi, umbi runcing yang bisa dihasilkan sekitar 1 ton kilogram. Hasil panen dibagikan ke karyawan, mahasiswa, dosen dan masyarakat sekitar. Sebagian dijual ke koperasi karyawan ITB untuk menutupi kekurangan biaya operasional di lahan Haurgombong.

 

 

Berita Terkait