Lokakarya Pengembangan Kawasan Jatinangor

Jatinangor.itb.ac.id – Kamis (17/03/2016), Direktorat Eksekutif Kampus ITB Jatinangor bekerja sama dengan Pusat Pemberdayaan Perdesaan (P2D) ITB,  menyelenggarakan Lokakarya Pengembangan Kawasan Jatinangor pada hari Kamis, 17 Maret 2016.

Bertempat di Gedung Kuliah Umum lantai 3, acara ini dihadiri oleh Dinas Pemukiman dan Perumahan Propinsi Jawa Barat, Badan Perencanaan dan Pengembangan Daerah Kabupaten Sumedang, Kecamatan Jatinangor, Kepala Desa Cibeusi, Kepala Desa Sayang, perwakilan Perguruan Tinggi seperti IPDN dan Ikopin. Selain itu hadir pula sebagai undangan wakil masyarakat dari Forum Jatinangor, mahasiswa ITB di Kampus Jatinangor dan para pimpinan Direktorat Eksekutif Kampus ITB Jatinangor beserta jajarannya.

Dibuka oleh Dr. Taufikurahman selaku Wakil Direktur Eksekutif Kampus ITB Jatinangor Bidang Umum dan Hubungan Eksternal, sekaligus sebagai moderator, mengatakan bahwa acara ini diselenggarakan selain sebagai ajang silahturahmi, juga untuk saling bertukar pikiran dan ide tentang perkembangan kawasan jatinangor kedepan. Direktur Eksekutif Kampus ITB Jatinangor, Dr. Wedyanto, MSc, menegaskan bahwa selaku Perguruan Tinggi terbaru yang menempati kawasan Jatinangor, ITB berharap dapat  ikut serta dan berperan aktif dalam memberikan ide-ide, masukan, bantuan teknis dan sarana untuk solusi permasalahan-permasalahan yang dihadapi Jatinangor.

Wakil Direktur Eksekutif Kampus ITB Jatinangor Bidang Akademik dan Sumberdaya, Dr Woerjantari Kartidjo, memaparkan sejarah mulai berdirinya Kampus ITB Jatinangor dan perkembangannya dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2016. Beliau menuturkan bahwa ITB siap membantu pemerintahan propinsi dan daerah dalam mengembangkan kawasan jatinangor.

Ketua P2D ITB, Dr Endra Susila dalam paparannya lebih menekankan pada pentingnya ketersediaan air permukaan pada kawasan pegunungan terutama di jatinangor. Seiring pertumbuhan populasi penduduk maka kebutuhan akan air tanah akan semakin meningkat. Timbulnya masalah erosi akan berpasangan pada masalah sedimentasi dan ketersediaan air tanah. Lebih lanjut dikatakan oleh Dr Endra, bila melihat perkembangan jatinangor saat ini saja sudah tumbuh sangat cepat, maka akan jauh baik bila kawasan jatinangor dapat ditata dari awal.

Camat Jatinangor dalam lokakarya ini mengatakan kawasan jatinangor adalah kawasan yang sangat strategis. Untuk mengatasi permasalahan di kawasan jatinangor harus ada keinginan bersama. Lembaga di lingkungan jatinangor dapat berperan dengan mengirimkan ahli-ahlinya untuk menangani masalah seperti sampah dan banjir. Lembaga-lembaga harus bekerja sama untuk menangani pendangkalan sungai melalui kerja sama yang baik. Jatinangor kedepan akan lebih strategis dalam menyambut Pekan Olahraga Nasional ke-19. Kawasan Jatinangor sebagai kawasan pendidikan pernah dibahas dalam forum rektor. Semua stakeholder harus berperan aktif menjadikan kawasan jatinangor sebagai kawasan pendidikan yang memiliki payung hukum.

Wakil Rektor IPDN, Prof Erliana Hasan, M.Si, yang didalam Pemerintahan Dalam Negeri disebut juga Wakil Gubernur, mengatakan bahwa pembahasan kebijakan kawasan jatinangor sebagai kawasan pendidikan pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini yang kemudian sejalan dengan keberadaan Perguruan Tinggi seperti IPDN, Ikopin, UNPAD, dan ITB. Kawasan Pendidikan artinya lingkungan sekitarnya adalah lingkungan intelektual sehingga angka kriminalitas rendah. Pada akhir penyampaiannya, beliau sangat mendukung gagasan lokakarya pengembangan kawasan jatinangor, dan IPDN siap membantu dalam hal menentukan kelembagaan yang tepat.

Ir. Teti Armiati Argo, MES.,Ph.D, sebagai salah satu penggagas Forum Jatinangor, menuturkan bahwa sinergi pembangunan dan kegiatan pendidikan tinggi dapat sejalan dengan kemajuan masyarakat di sekitarnya. Perlu dilakukan penataan kembali pemukiman di sekitar perguruan tinggi agar kondusif bagi penghidupan masyarakat, belajar mengajar maupun kegiatan penelitan di kawasan pendidikan di Jatinangor.

Dr. H. Ery Supriyadi R., Ir., MT, Kepala Pusat Penelitian Ikopin yang juga turut dalam acara diskusi ini, memaparkan tentang dinamika kawasan pendidikan tinggi jatinangor. Target yang disampaikan mulai dari penguatan kelembagaan lokal, merumuskan persoalan berdasarkan peran aktif masing-masing perguruan tinggi, meningkatkan forum komunitas dalam mempengaruhi kebijakan publik sampai dengan membangun jaringan yang positif dan kondusif dengan berbagai pihak.

Selain pembicara tersebut diatas, hadir juga sebagai pembicara Dr. Tubagus Furqon sebagai anggota tim P2D ITB yang menyampaikan pentingnya kelembagaan agar pengembangan kawasan jatinangor dapat dilakukan dengan segera sesuai yang telah direncanakan. Dan Bpk. Nandang Suherman selaku perwakilan warga Forum Jatinangor juga turut dalam menyampaikan kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan di Forum Jatinangor sejak tahun 2000.

Berita Terkait