Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos, menjadikan Sampah Organik bernilai Ekonomis bagi Masyarakat Desa di Kecamatan Jatinangor

jatinangor.itb.ac.id – (rabu, 12/10/2016)

Sampah dan Tingkat Perekonomian.

Padatnya penduduk dan aktivitas bisnis di perkotaan akan selalu dibarengi dengan munculnya sampah. Baik itu berupa sampah organik dari sisa-sisa makanan, maupun sampah non organik seperti halnya plastik pembungkus makanan. Meskipun sampah seringkali menjadi masalah, namun tak dapat dipungkiri bahwa adanya sampah dapat dijadikan sebagai tanda-tanda kehidupan dan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Sampah merupakan tempat berkumpulnya bakteri dan mikro organisme. Keberadaan bakteri dan mikro organisme secara alami memang harus ada untuk mengurai sampah-sampah tersebut secara alami. Pengolahan sampah yang kurang baik tidak hanya akan mendatangkan penyakit, namun juga bisa menimbulkan bencana. Seperti halnya yang pernah terjadi di TPA Leuwi Gajah. Ledakan gas dari dalam tumpukan sampah yang menggunung, menyebabkan tewasnya beberapa orang warga yang tinggal di sekeliling area tempat penampungan sampah. Sedikit saja mengalami keterlambatan pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir, maka sampah akan tertumpuk dan berserakan. Termasuk bau tidak sedap yang mengganggu aktivitas masyarakat di sekitarnya sehingga menurunkan tingkat produktivitas masa.

 

Pengolahan Sampah

Pengolahan sampah secara sederhana bisa dimulai dari mengumpulkan sampah, memilah sampah, mencacah sampah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sampai pada proses pembusukan secara aktif maupun pasif, hingga menjadikannya berubah dan memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat sekitarnya.

Sampah organik dari sisa makanan, kotoran ternak, dedaunan dan rumput, dapat diproses untuk menjadi pupuk kompos. Gas yang dihasilkan dari dalam sampah juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar. Penelitian menyebutkan, bila dalam satu rumah tangga memelihara dua ekor sapi, maka biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi itu cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar untuk memasak selama satu bulan.

 

Permasalahan Sampah adalah Tanggung Jawab Bersama

Permasalahan sampah harus diselesaikan bersama-sama dengan seluruh elemen. Masyarakat harus dikenalkan akan pentingnya memilah sampah. Bila kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sudah terbentuk, maka waktu yang dibutuhkan untuk mengolah sampah menjadi lebih cepat. Pemilahan sampah yang dilakukan di ujung, akan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan bila setiap orang sudah memilah sampahnya masing-masing sesuai kategorinya.

Kesadaran akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya harus dibarengi dengan pengetahuan akan bahaya sampah. Adanya manfaat serta keuntungan ekonomis dari pengolahan sampah, diharapkan membantu tumbuhnya semangat masyarakat untuk mengolah sampahnya masing-masing. Pun sebaliknya, kesadaran membuang sampah pada tempatnya tidak akan tercapai bila sarana prasarana yang dibutuhkan masyarakat tidak memadai. Perlu kerjasama dan dukungan dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi, agar daerah bebas dari bencana sampah. Sumber daya manusia yang terampil dalam mengelola sampah di lingkungan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menciptakan sebuah daerah yang bersih dan sejahtera.

 

Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos di Kampus ITB Jatinangor

Dr. Taufikurahman, Wakil Direktur Eksekutif Kampus ITB Jatinangor, sekaligus dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB, menyampaikan materi pelatihan tentang pembuatan pupuk kompos di ruang seminar, Gedung Utama lantai 3, Kampus ITB Jatinangor. Sekitar 19 orang aparatur desa dari tiga desa di Kecamatan Jatinangor, yaitu desa cikeruh, desa sayang, dan desa hegarmanah di Kecamatan Jatinangor mengikuti kegiatan pelatihan ini dengan seksama.

Hadir pula dalam pelatihan ini, Camat Jatinangor, Drs. Maman Wasman. Dalam sambutannya, beliau berpesan agar para peserta mengikuti Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos sampai dengan selesai. Permasalahan sampah akan melanda kecamatan jatinangor bila tidak segera ditangani dengan cepat. Butuh waktu serta biaya transportasi yang cukup besar setiap bulannya untuk proses pembuangan sampah kawasan Jatinangor sampai pada tempat pembuangan akhir sampah yang terdekat, di Cimalaka. Harapan setelah pelatihan ini usai, para aparatur desa sudah memiliki bekal dan pengetahuan untuk mengolah limbah sampah organik menjadi pupuk kompos yang siap jual.

Di akhir pelatihan, para peserta didampingi praktisi berpengalaman dalam pengolahan limbah sampah organik, Bapak Apep Maman, mengunjungi Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu di Kampus ITB Jatinangor.

Berita Terkait