Pelatihan Pemanfaatan Kotoran Ternak Sapi sebagai Sumber Pupuk Ramah Lingkungan

  • 20180815_094341
  • 20180815_130831
  • 20180815_133555
  • 20180815_141205
  • 20180815_141504
  • 20180815_145844
  • 20180815_150516
  • 20180815_151359
  • 20180815_153019
  • 20180815_153033

Jatinangor.itb.ac.id – (Rabu, 15/08/2018)

ITB Kampus Jatinangor mempunyai lahan/kebun percobaan untuk praktikum hayati dan kegiatan perkuliahan di daerah Haurngombong/Cilembu Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang dengan luas sekitar 3 ha, disekitar lahan tersebut banyak penduduk yang bermata pencaharian sebagai peternak sapi perah.

Potensi ternak sapi perah ini harusnya  menjadi potensi keuntungan untuk men-support usaha pertanian dengan bahan baku pupuk organik yang melimpah yang berasal dari kotoran/feses dan urin sapi, tapi nyatanya potensi ini belum dimanfaatkan dengan maksimal karena peternak dan petani di sana banyak yang belum mempunyai keahlian dalam mengolah limbah ternak tersebut menjadi pupuk organik secara baik dan cepat. Peternak terbiasa hanya mengumpulkan kotoran sapi di satu tempat dan dibiarkan mengering hingga menjadi pupuk organik yang proses tersebut memakan waktu berbulan-bulan dan kualitas hasil pupuknyapun tidak seragam juga minim unsur hara.

Kenyataan inilah yang menggugah ITB Kampus Jatinangor untuk menginisiasi “Pelatihan Pemanfaatan Kotoran Ternak Sapi sebagai Pupuk Ramah Lingkungan” untuk warga di sekitar lahan percobaan ITB di Haurngombong.  Pelatihan ini fokus untuk membuat pupuk organik cair dengan bahan baku kotoran/feses dan urin sapi, berikut kegunaan dan mafaat pupuk organik cair (Nur Fitri, Erlina Ambarwati, dan Nasih Widya, 2007) :

  1. Dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosae sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara
  2. Dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca dan serangan patogen penyebab penyakit.
  3. Merangsang pertumbuhan cabang produksi.
  4. Meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta
  5. Mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah.

Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2018 di lahan percobaan ITB di Desa Haurngombong, Pamulihan-Sumedang.  Untuk Pemateri dalam pelatihan ini antara lain : Dr. Taufikurahman, Dr. Eri Mustari, dan Yeyet Setiawati, Ir., MP.

Dr. Taufikurahman selain membuka dan memberikan sambutan pada pelatihan ini, beliau juga menyampaikan tentang pengenalan kegunaan pupuk organik dan memotivasi peternak untuk mengolah limbah ternaknya menjadi pupuk organik yang akan bermanfaat tidak hanya pada usaha pertanian juga meminimalisir efek negatif limbah ternak pada lingkungan ketika tidak dikelola dengan baik.  Dr. Taufikurahman juga menyatakan akan menerima pupuk organik cair yang dihasilkan oleh peternak guna mensupply kebutuhan pupuk organik untuk pembibitan tanaman hutan yang tengah dilakukan oleh ITB Kampus Jatinangor, yang akhirnya bisa menjadi sumber tambahan pendapatan buat peternak sapi perah di sekitar lahan percobaan ITB tersebut.

Dr. Eri Mustari bersama Yeyet Setiawati, Ir., MP. menyampaikan praktek pembuatan pupuk organik cair dari awal hingga akhir, dimulai dari penyediaan bahan-bahan, meracik/mengolah dan memanen pupuk organik cair yang proses tersebut membutuhkan waktu relatif singkat sekitar 2-3 minggu saja.  Peserta sangat antusias dengan pelatihan ini dan akan berusaha mempraktekkannya di rumah masing-masing.

 

sumber:

  • Rizqiani Nur fitri, Erlina Ambarwati, dan Nasih Widya Yuwono. 2007. Pengaruh dosis dan frekuensi pemberian pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil buncis (Phaseolus vulgaris L.) dataran rendah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol.7 No.1, 43-53.

 

Berita Terkait