Workshop Peduli Lingkungan di SMA Plus Al-Falah Cileles-Jatinangor

  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (18)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (17)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (14)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (13)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (12)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (11)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (10)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (9)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (7)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (7)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (4)
  • WhatsApp Image 2018-11-11 at 11.10.01 (3)

Jatinangor.itb.ac.id – (Sabtu, 10/11/2018)

Workshop yang digelar dalam rangka pengabdian masyarakat dan dilakukan oleh Mahasiswa ITB Kampus Jatinangor ini diikuti oleh puluhan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Plus Al-Falah di Desa Cileles Kecamatan Jatinangor, Sabtu (10/11).

Wakil Direktur Eksekutif bidang Umum dan Hubungan Eksternal, Dr.  Taufikurrahman mengatakan workshop ini digelar oleh mahasiswa-mahasiswa ITB mata kuliah pengetahuan lingkungan yang dilakukan tidak hanya didalam kelas saja. Melainkan, memilih keluar bersama siswa-siswi SMA Plus Al-Falah agar mereka bisa memberikan motivasi tentang pengolahan lingkungan dan kebersihan.

Menurutnya, siswa-siswi SMA Plus Al-Falah sangat merespon baik mereka tampak sangat senang karena secara sosial bisa berinteraksi dengan mahasiswa dan merasa ada kepedulian dari mahasiswa ITB kepada mereka.

“Tidak hanya itu juga para siswa diajarkan pemanfaatan sampah plastik dan anorganik yang bisa didaur ulang menjadi pot atau hidroponik atau Vertikultur yaitu menanam secara vertikal untuk lahan-lahan yang sempit terutama dikota yang tidak punya halaman ” ujarnya.

Dalam workshop ini, selain memberikan pemahaman tata cara mengolah sampah juga memberikan contoh membuat pupuk dari sampah organik. “Tadi saya sempat mengetes siswa mengenai sampah-sampah organik dan non organik, ketika ditanya pengolahan sampah organik diapain? Mereka menjawab dibakar, itu contoh yang tidak baik, sampah organik seharusnya dijadikan kompos ambil contoh bisa menggunakan alat biopori sederhana diisi daun-daunan akan memperbarui tekstur tanah dengan material organik itu, membantu penyerapan air,” ucapnya.

“Program pengabdian kepada masyarakat rutin dilakukan setiap tahun namun bentuknya berbeda-beda, sebenarnya kerjasama dengan SMA sudah cukup lama dulu pernah dilakukan penanaman pohon di gunung geulis yang melibatkan pelajar SMP dan SMA, pekan depan juga kita akan menanam pohon di sepanjang DAS Citarum dalam hal ini di sungai Cikeruh yang bekerjasama dengan Forum Peduli Sampah Jatinangor,” ucapnya.

“Diharapkan mahasiswa akan menindaklanjuti dengan himpunan dan unit-unit kegiatan mahasiswa (UKM) untuk memberikan bimbingan belajar agar mereka bisa bersaing dengan sekolah-sekolah yang lain sehingga bisa diterima di kampus negeri, karena menurut informasi dari pihak Sekolah di SMA Al-Falah ini masih sedikit yang melanjutkan ke perguruan tinggi.” ucapnya. “Semoga dari interaksi ini mereka akan lebih termotivasi untuk melanjutkan sekolah,” tambahnya.

Sementara itu salah seorang siswa SMA Plus Al-Falah, Andri mengatakan, mengapresiasi kegiatan tersebut yang dinilainya sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dalam mengelola sampah menjadi barang berguna.

“Kami diajarkan oleh kakak-kakak Mahasiswa ITB bagaimana cara mengolah sampah baik sampah organik maupun sampah non organik,” ujarnya.

Andri menambahkan, selama ini dirinya tidak mengetahui bahwa sampah yang banyak ditemukan dilingkungan masyarakat bisa kembali diolah. Namun, setelah mengikuti workshop tersebut, baru tahu bahwa barang bekas bisa kembali diolah dan menjadi barang berguna.

“Kami termotivasi untuk mengelola sampah sampah organik yang bisa dijadikan pupuk dan sampah non organik (bekas botol red) bisa dijadikan pot,” ucapnya.

 

Berita Terkait