ITB kembali Gelar Workshop dan Pelatihan Pengolahan Kotoran Sapi menjadi Pupuk Organik Cair dan Biogas

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15
  • 16
  • 17
  • 18

Jatinangor.itb.ac.id – (Rabu, 28/08/2019)

Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Jatinangor kembali memberikan workshop dan pelatihan kepada masyarakat khususnya para peternak sapi tentang pengolahan kotoran sapi dan bahan-bahan lainya menjadi biogas dan pupuk cair di Dusun Pangaseran Desa Haurngombong Kecamatan Pamulihan (28/08/2019). Kegiatan ini merupakan program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di lahan ITB di wilayah Desa Haurngombong Kecamatan Pamulihan.

Zaman Rukmana sebagai PJS Kades Haurngombong, dalam sambutannya menyatakan bahwa masyarakat di sekitar lahan ITB ini harus proaktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yg diadakan oleh ITB Kampus Jatinangor agar mendapatkan manfaat. Desa haurngombong, menurut beliau juga pernah menerima program “Desa Caang, Mandiri Energi” berupa beberapa instalasi biogas rumahan, tetapi program tersebut semakin menurun kualitas dan kuantitasnya karena banyak instalasi biogas yang rusak. “Semoga kedepannya bisa sinergi dengan ITB hingga bisa meningkatkan kembali program tersebut”. tutupnya.

Wakil Direktur Eksekutif bidang Umum dan Hubungan Eksternal Institut Teknologi Bandung (ITB) kampus Jatinangor, Dr. Taufikurahman mengatakan, dalam pelatihan tersebut masyarakat diberikan pemahaman tentang bagaimana cara mengolah kotoran sapi menjadi pupuk cair yang mana nantinya masyarakat bisa melakukannya secara mandiri.

“Kotoran sapi disini banyak, sayang kalau dibiarkan begitu saja karena bisa mencemari lingkungan, sungai, selokan, akan sangat baik apabila diolah menjadi Biogas yang bisa digunakan untuk keperluan memasak sehingga tidak perlu lagi menggunakan gas LPG,” ucapnya.

“Sebetulnya, Desa Haurngombong sudah mendapatkan bantuan serupa sekitar tahun 2007 yang disebut “Program Desa Caang, Mandiri Energi”, tapi hanya bertahan beberapa tahun, kendalanya karena kekurangpahaman warga ditambah lemahnya pendampingan dari lembaga pemberi bantuan tersebut”, tambahnya.

“Sekarang kita mencoba kembali memberikan pengetahuan dan masyarakat tampak semangat, syukur-syukur bisa mengajukan permohonan ke Pemda untuk perbaikan instalasi biogas yang sebelumnya sudah ada. Tingkat kerusakannya bervariasi dan sebagian besar sudah parah harus dibuat kembali,” ucapnya.

Kendati demikian, lanjut Taufikurahman, para peternak sapi juga diberikan pemahaman tentang bagaimana cara mengolah pupuk cair yang mudah dan simpel.

Dr. Eri Mustari (Dosen SITH-ITB) dalam pemaparan materi tentang pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) menyampaikan, “Pengolahan pupuk cair harus bersumber dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di masyarakat, dan apabila ini dilakukan bisa menjadi nilai ekonomis bahkan bisa menambah penghasilan warga”, ucapnya. Ia pun berharap, melalui kegiatan tersebut bisa menumbuhkan kemandirian masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan melalui pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk organik serta mengaplikasikan secara teratur pupuk cair organik tersebut pada usaha pertanian yang dilakukan warga, tutupnya.

Berita Terkait