Pengendalian Pematangan Pisang Memanfaatkan Keanekaragaman Kekayaan Laut, Darat dan Angkasa

fennySejak kecil Ibu selalu mencekoki kami pisang dan membuat keluarga menyukai buah ini, sementara itu hampir setiap hari pedagang pisang keliling mengetuk pintu rumah menawarkan dagangannya.  Suatu hari tidak lama setelah menyelesaikan studi di Melbourne, saya terenyuh melihat buah pisang yang dijajakan pedagang keliling terlalu matang dan tidak layak dijual, sangat berbeda dengan buah di supermarket yang masih segar dan cantik.  Hal inilah yang kemudian menginspirasi saya untuk mempelajari gen-gen yang terlibat pada pematangan buah dan cara untuk memperlambat pematangannya.  Tentu saja jika penelitian ini berhasil akan sangat bermanfaat bagi industri makanan yang menggunakan pisang sebagai bahan baku dan utamanya bagi pedagang keliling serta petani buah yang tersebar di seluruh pelosok negeri.  Keinginan itu semakin kuat setelah mengetahui bahwa ternyata Indonesia adalah peringkat ke-6 negara penghasil pisang di dunia namun sebagai pengekspor buah hanya berada di peringkat ke-60.  Hal ini terjadi karena pengelolaan pasca panen yang masih bersifat tradisional menyebabkan kualitas buah kurang baik.  Padahal selain pisang dengan varietasnya yang lebih dari 1000 macam, Indonesia masih memiliki banyak buah-buahan lain yang sangat potensial menjadi sumber devisa negara.

Sebetulnya ada keraguan saat kembali ke Indonesia, apakah bisa melakukan penelitian mengingat mahalnya biaya penelitian di bidang biologi molekuler yang saya geluti.  Namun setelah dijalani keraguan tersebut sirna sebagaimana dikatakan oleh Nelson Mandela “Nothing impossible until it’s done“.  Dimulai dari tim kecil beranggotakan tiga mahasiswa S1, dirintislah BANANA GROUP dengan fokus tentang perilaku gen pematangan buah dan faktor yang dapat mengendalikannya.  Permintaan dari industri makanan untuk membantu memecahkan masalah penyimpanan buah pisang dan apresiasi dari berbagai pihak terhadap penelitian ini merupakan dukungan yang luar biasa bagi kami.  Ritme penelitian seakan-akan diajak berlari kencang untuk segera menghasilkan solusi yang sesuai dengan kondisi Indonesia, dimana tidak semua tempat memiliki akses listrik, sehingga sangat diperlukan teknologi yang canggih namun mudah diaplikasikan.  Apa mimpi kami berikutnya?  menghasilkan tempat penyimpanan buah yang kami sebut dengan Fruit Storage Chamber (FSC).

Kita patut bersyukur karena Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa.  Kekayaan alam apa yang Indonesia tidak punya? Darat, laut, udara bahkan angkasa, semuanya berlimpah.  Setelah berusaha memahami proses pematangan buah secara seluler maupun molekuler, selanjutnya dibutuhkan pemanfaatan sumber daya alam lain untuk menghasilkan FSC.  Oleh karena itu, kerja bahu membahu multidisiplin ilmu sangatlah diperlukan untuk mempercepat pencapaian tujuan.  Penelitian selanjutnya adalah memanfaatkan keanekaragaman kekayaan laut untuk menghasilkan edible coating yang mampu memperpanjang umur buah.  Jadilah limbah udang dan ekstrak rumput laut menjadi fokus penelitian berikutnya.

Setelah laut, ide penelitian terus bergulir dengan memanfaatkan keanekaragaman kekayaan darat seperti bambu untuk kemasan buahnya.  Kemasan ini tentunya tidak hanya harus cantik dan ergonomis tetapi memiliki fungsi utama dapat memperlambat pematangan buah.  Seru sekali bekerja dengan teman-teman dari berbagai ragam keilmuan di ITB, para peneliti muda yang tergabung dalam Forum Peneliti Muda Indonesia (ForMIND), bahkan dengan institusi lain di dalam maupun luar negeri.  Diskusi penelitian yang seru membahas tantangan serta ide-ide segar yang terus mengalir membuat ritme grup kami terus berdenyut.  Kami terkesan karena edible coating  dan bamboo FSC yang digunakan sangat potensial dan dapat menghambat proses pematangan buah dan kerja gen yang terlibat.

Tantangan dan kesempatan berikut yang tidak kalah menarik adalah memanfaatkan satu lagi sumber daya alam lainnya… luar angkasa!  Untuk menjawab tantangan ini kami telah menghasilkan alat simulasi kondisi microgravity yaitu 3D klinostat pertama di Indoensia.  Melalui simulasi ini, kami mendapatkan hasil yang sangat menarik yaitu buah menjadi lebih lambat matang.  Oleh karena itu, mimpi kami selanjutnya adalah mengirimkan buah pisang ke luar angkasa!

Benang merah penelitian yang telah dilakukan lebih dari sepuluh tahun telah terjalin, mimpi demi mimpi menjadi kenyataan.  Keanekaragaman kekayaan laut, darat dan angkasa ternyata memiliki potensi luar biasa untuk mengendalikan pematangan buah.  Kiranya hasil penelitian ini dapat membuat petani buah tersenyum termasuk tentunya pedagang buah keliling di kampung-kampung dan warung-warung tradisional.

Akhir kata, terima kasih ITB, BANANA GROUP dan semua pihak yang telah mendukung kami selama ini.

Sumber berita : Buku Peringatan 95 Tahun Pendidikan Tinggi di Indonesia 1920 – 2015 (Berkembang Bersama ITB)

Sumber foto : http://thebananagroup.org/gallery.php

 

Berita terkait :

1. The Jakarta Post, 21 Maret 2007 bertajuk  Fenny Martha Dwivany: Scientist who loves banana vendors

2. Rumah Pengetahuan, 12 Agustus 2012 bertajuk Fenny Martha Dwivany : ” Banana Lady” dan Rahasia Etilen Pisang.

3. Sains Indonesia, 8 Januari 2014 bertajuk “Banana Lady” dari ITB

4. Republika Online, 23 September 2014 bertajuk Fenny Martha Dwivany, The Banana Lady

Berita Terkait