Workshop Budidaya BSF, Solusi Daur Ulang Sampah Organik Lebih Efektif dan Ekonomis

  • IMG_5532
  • IMG_5536
  • IMG_5558
  • IMG_5575
  • IMG_5588
  • IMG_5570
  • IMG_5571
  • IMG_5588

Jatinangor.itb.ac.id – (Minggu, 23/09/2018)

Pengelolaan sampah di daerah perkotaan merupakan salah satu hal yang paling mendesak dan merupakan permasalahan lingkungan yang serius, yang dihadapi oleh pemerintah di negara berpendapatan rendah dan menengah. Tantangan yang semakin berat ini akan terus meningkat karena adanya trend urbanisasi yang terjadi dan tumbuh dengan cepat di populasi masyarakat perkotaan. Karena meningkatnya tekanan dari masyarakat dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, para ahli sampah dunia terpanggil untuk mengembangkan metode berkelanjutan yang berhubungan dengan sampah perkotaan, yang mengusung konsep sebuah perputaran ekonomi. Daur ulang sampah organik (biowaste) masih terbatas, khususnya di daerah berpendapatan rendah dan menengah, padahal sampah jenis tersebut yang menjadi kontributor terbesar dari sampah perkotaan yang dihasilkan.

Sampah organik perkotaan di daerah urban yang berasal dari sampah rumah tangga, aktivitas komersial, dan institusi. Proses konversi biowaste menggunakan larva serangga Black Soldier Fly (BSF) adalah  sebuah pendekatan yang telah menjadi perhatian pada dekade terakhir ini. Penggunaan larva dari serangga ini sebagai pengolah sampah merupakan suatu kesempatan yang menjanjikan, Karena larva BSF yang dipanen tersebut dapat berguna sebagai sumber protein untuk pakan hewan, sehingga dapat menjadi pakan alternatif pengganti pakan konvensional. Berikut beberapa keunggulan dari BSF:

  1. Biomassa sampah diubah menjadi larva dan residu. Larva terdiri dari ± 35% protein dan ±30% lemak kasar. Protein serangga ini memiliki kualitas yang tinggi dan menjadi sumber daya makanan bagi para peternak ayam dan ikan. Percobaan pemberian makan telah memberikan hasil bahwa larva BSF dapat dijadikan sebagai alternatif pakan yang cocok untuk ikan.
  2. Pemberian makan berupa sampah ke larva bertujuan untuk menghentikan penyebaran bakteri yang menyebabkan penyakit, seperti Salmonella spp. Hal ini berarti bahwa risiko penyakit yang dapat ditularkan antara hewan dengan hewan, dan antara hewan dengan manusia dapat berkurang ketika menggunakan teknologi ini di peternakan atau ketika mengolah sampah yang berasal dari hewan pada umumnya (contohnya kotoran ayam atau sampah dari sisa pemotongan hewan). Meskipun demikian, pengurangan risiko utama dapat dicapai melalui pengurangan material sampah (±80%) dibandingkan melalui penonaktifan patogen (mikroorganisme parasit).
  3. Pengurangan berat basah sampah mencapai 80%. Jika pengolahan sampah organik dilakukan langsung di sumber sampah, maka biaya pengangkutan sampah dan kebutuhan lahan untuk tempat pembuangan akhir (TPA) dapat dikurangi. Contohnya pengolahan sampah organik dapat mengurangi terjadinya penimbunan sampah di ruang terbuka, yang masih menjadi permasalahan di daerah perkotaan.
  4. Residu sisa proses pengolahan dengan BSF merupakan material yang mirip dengan kompos, mengandung nutrisi dan unsur organik, dan ketika digunakan di pertanian dapat membantu mengurangi penipisan nutrisi tanah.
  5. Laju konversi sampah-menjadi-biomasa yang tinggi, hingga 25% dari berat basahnya, sehingga merupakan kuantitas hasil yang memuaskan dari perspektif bisnis.
  6. Pengoperasikan fasilitas ini tidak membutuhkan teknologi yang canggih. Karena itu sesuai untuk diterapkan di daerah berpendapatan rendah, yang masih mengandalkan teknologi yang sederhana dan tenaga kerja dengan keterampilan rendah.

Perusahan-perusahaan besar dan beberapa pengusaha kecil telah menginvestasikan dana untuk mengembangkan teknologi ini. Mereka juga tertarik dengan keuntungan yang didapatkan mengingat bahwa teknologi ini dapat diaplikasikan dengan menggunakan fasilitas terjangkau dengan biaya rendah. Meskipun publikasi secara akademik tentang BSF mengalami peningkatan, namun adanya campur tangan dari pihak pebisnis dan minat kompetisi menghambat adanya diskusi terbuka untuk pengembangan yang lebih lanjut, terutama untuk membangun fasilitas pengolahan sampah menggunakan larva BSF.

Dari beberapa latarbelakang dan keunggulan diatas itulah, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB bersama beberapa komunitas dan masyarakat yang peduli dengan lingkungan mengadakan “Workshop Budidaya BSF” yang dilaksanakan pada tanggal 23 September 2018 di Kampus ITB Jatinangor. Dr. Ramadhani Eka Putra sebagai pemateri dari SITH ITB menerangkan dengan detil tentang BSF dan potensi solusi dari permasalahan daur ulang sampah juga peluang ekonomi dalam pembudidayaannya. Beliau berharap workshop ini menjadi titik awal sinergi dalam peningkatan budidaya BSF sebagai salah satu solusi masalah sampah di indonesia yang sangat bernilai ekonomis.

 

Berita Terkait